Home Opini Moderasi Beragama, Cara Merawat Ke-Indonesiaan Kita

Moderasi Beragama, Cara Merawat Ke-Indonesiaan Kita

Oleh : Rahmat Banu Widodo, S.Sos.I.,M.Pd.,M.I.kom

138
0
SHARE
Moderasi Beragama, Cara Merawat Ke-Indonesiaan Kita

Keterangan Gambar : Rahmat Banu Widodo, S.Sos.I.,M.Pd.,M.I.kom (foto dok pribadi)

Indonesia dikenal sebagai bangsa yang majemuk, terdapat banyak keragaman etnis, budaya dan agama, keberagaman merupakan kekayaan yang dimiliki Indonesia sejak dahulu, makanya kita mengenal moto “bhineka tunggal Ika” berbeda beda tetapi tetap satu.

Clifford Geertz seorang antropolog, pengkaji budaya Indonesia, mengatakan nilai masyarakat budaya Indonesia sangat erat dengan sistem kepercayaan (religi) yang kuat dan integrasi sosial yang merekat, ditandai dengan banyak simbol, tindakan, upacara yang berkaitan dengan penghormatan kepada semesta.

Menurut penulis buku “Religion of java” ini, agama bagi orng Indonesia merupakan simbol-simbol keramat yang memberikan makna bagi manusia untuk memahami dunia, bertindak, dan merespons penderitaan, dan gambaran nya tentang hubungan agama dan budaya memperkenalkan kepada khalayak tentang frase Abangan, santri, priyayi yang hidup bersama dalam kehidupan sosial budaya di tanah Jawa.

Agama dan Budaya

Kebinekaan dan keberagaman dalam budaya Indonesia dipotret dengan baik oleh Geertz, bangsa ini sudah sangat mengenal dan terbiasa dalam perbedaan dan keberagaman. Bagi masyarakat Indonesia, agama dan budaya menjadi kata kunci, bagaimana nilai-nilai keberagaman menjadi modal untuk mengokohkan persatuan, dan merajut perbedaan.  

Begitu pula persatuan dalam keragaman, semakin bersatu, kompak dan solid, maka keberagaman bangsa Indonesia akan terus dikokohkan, meskipun realitas sosialnya masyarakat kita mempunyai warna dan penuh keberbedaan, tetapi dengan semangat persatuan, keberbedaan kokoh seperti pohon beringin, akarnya kuat menghujam ke bumi, batangnya lebat menjulang ke langit.

Pemikiran ini diperkuat oleh Frans Magnis Suseno, seorang Tokoh Cendekiawan yang berpandangan bahwa persatuan Indonesia tidak dibangun di atas keseragaman, melainkan pada pengakuan dan penghargaan terhadap keberagaman sebagai identitas bersama.

Ramah dalam Keragaman

Indonesia dikenal juga bangsa yang ramah, mudah menolong dan  mengedepankan kepedulian, ini juga menjadi kekayaan yang diberikan semesta kepada bumi Pertiwi ini, sifat sifat positif yang diturunkan para leluhur menjadi kekuatan nilai dan budaya bangsa, sehingga nilai-nilai itu diakui oleh bangsa bangsa lain di mancanegara.

Ramah dan mudah menolong adalah adab dan identitas karakteristik masyarakat Indonesia, tidak melihat warna kulit, status sosial, agama dan keyakinan, serta suku, sifat ramah, baik hati kepada pendatang, dan selalu tampil penuh keramahan adalah identitas kita, masyarakat Indonesia.

Sifat gotong royong, menurut Koentjaraningrat, sejak dulu dikenal dalam diri masyarakat kita, mengedepankan kerebsamaan, saling asah, asih dan asuh, “mikul nduwur, menden jero” sebuah aksara jawa yang syarat dengan nilai-nilai keluhuran, yang artinya selalu menjunjung tinggi, menghormati, dan mengingat kebaikan orang lain (terutama orang tua atau pemimpin), serta menutupi dan melupakan aib atau kesalahan masa lalu mereka.

Pentingnya Moderasi Beragama

Namun nilai-nilai itu menghadapi tantangan seiring dengan perkembangan teknologi informasi, dimana nilai-nilai “asing” prilaku yang tidak sesuai dengan norma dan budaya nusantara kita, “diperkenalkan” dalam jagat dunia maya, kekerasan, tidak saling menghargai, menebar kebencian sangat mengganggu ritme keharmonisan kehidupan sosial kita.

Moderasi beragama menjadi pengingat, bagaimana bangsa ini menempatkan cara pandang dan sikap beragama yang proporsional, berlandaskan pada keadilan, keseimbangan dan penghormatan terhadap hak-hak orang lain dalam menjalankan keyakinannya, sehingga seseorang tetap dengan keyakinannya sambil menghargai keberadaan keyakinan lain.

Penanaman nilai ini bisa dimulai dari diri sendiri, dalam Bahasa Al Qur’an disebut “Ibda binafsik” mulailah dari diri sendiri, keluarga, dan lingkungan, atau dalam ayat lain disebut “ku anfusakum wa ahlikum naro” jagalah dirimu dan keluargamu dari siksa api neraka, mulailah nilai-nilai kebaikan itu dipercontohkan dari diri, keluarga dan lingkungan. 

Nilai-nilai toleransi harus dimulai dari sikap mental individu, kemudian ditanamkan di keluarga, Istri, anak, ayah atau ibu, kemudian yang lebih luas dikembangkan di lingkungan masyarakat, Kampus, kegiatan sosial, dan kemudian dikembangkan dalam dialog dialog di masyarakat.

Kesimpulan
Pada akhirnya, moderasi beragama menjadi peran kunci cara merawat ke-Indonesiaan kita, moderasi beragama membangun kondisifitas pembangunan nasional, menciptakan kedamaian, keharmonisan, dan menghadirkan stabilitas sosial, sebaliknya potensi-potensi destruktif yang dipicu sikap intoleransi justru jadi faktor penghambat kemajuan dan pembangunan nasional. Moderasi beragama menjadi benteng penting agar masyarakat mampu menyaring informasi serta mengedepankan sikap saling menghormati.***

*Penulis adalah Dosen Institut Attaqwa KH Noer Alie Bekasi Peserta PKDP UIIN Salatiga 2026