
Keterangan Gambar : Muhammad Thohir/Tahir (Mas Tair) yang dikenal dengan nama pena Kang Thohir. (sumber foto : ist/pp)
1.
Tumpuan Hujan
Oleh: Kang Thohir
Setetes harapan pada tumpuan hujan
Melambai-lambai angan
Menuju kemurnian
Di balik ratapan menuai kemuliaan
Membumbung tinggi
Menepis halunisasi
Menjadi bukti
Dalam perjalanan kehidupan sejati
Di pelita agung Sang Pemberi
Brebes, 07 Juni 2026
2.
Aliansi Kehidupan
Oleh: Kang Thohir
Aliansi kehidupan
Di bukit senja
Ramai-ramai berbondong-bondong
Bagai burung-burung terbang
Berkumpul dalam satu atap
Di bumi nusantara yang kini kutatap
Brebes, 07 Juni 2026
3.
Haluansi dan Sunyi
Oleh: Kang Thohir
Perbedaan antara haluansi dan sunyi
Dalam ketimpangan sosial
Hemat ekonomi
Mungkin hanya bisa meratapi sepi
Namun ada maknawi di balik ruang haluansi menjadikan imajinasi, yang kreasi
Brebes, 07 Juni 2026
4.
Aksa di Selaput Mata
Oleh: Kang Thohir
Aksa di selaput mata di kacamata indra panorama. Melintir di sebuah peristiwa, meski bergelayut asa. Tumbang diterjang badai melanda, di ujung mata air senja. Kuaktifkan cakra ajna untuk mengetahui mana dewa dan mana durja. Di antara pupus cita-cita digerus masa dan air mata. Api sandiwara semakin merajalela, tertutup pintu-pintu di atas payoda. Burung-burung bertebaran di langit cakrawala, mencari perlindungan dari amukan angkara murka. Di balik jendela hitam menatap dukhan berkabut, menyesakan dada. Mungkin ada rembulan yang akan tertutup awan hitam. Aku tenggelam dalam hati yang kian gelisah. Bingung 'tuk melangkah. Di balik dinding putih tersirat makna hitam yang semu. Aku tertipu, namun tetap menunggu. Adakah kirannya aku mendapat pertolongan itu? Dan apakah kiranya harapan itu masa ada? Di balik realita yang semu, di ujung senja menyapa malam. Tertidur dalam mimpi-mimpi yang 'tak pernah terwujud.
Brebes, 06 Juni 2026
5.
Sebutir Pasir
Oleh: Kang Thohir
Dari tumpukan gunung pasir
Diambil dari bawah sungai mengalir
Di permukaan cinta berdesir
Ada sebuah harapan, meski hanya sebutir pasir
Di ujung senja, yang terakhir
Brebes, 07 Juni 2026
6.
Kecewa Hampa Merana
Oleh: Kang Thohir
Kekecewaan pasti ada
Seperti petikan alunan gitar yang tiba-tiba putus
Ditengah-tengah lagu-lagu cinta yang menggema
Namun kini telah pupus
Menjadikan asa kian tergerus
Pilu, kecewa, hampa dan merana
Brebes, 07 Juni 2026
7.
Sang Sunyi Menghampiri Malam
Oleh: Kang Thohir
Sang sunyi menghampiri malam
Diterpa angin dihempas badai
Melambai
Terberai
Namun masih berandai-andai
Kencang kabut petang hilang
Kerap menerjang
Namun lunglai
Brebes, 07 Juni 2026
8.
Perahu-perahu Rindu
Oleh: Kang Thohir
Jatuh bangun diterpa badai
Luapan jiwa di samudra pasai
Ombak menderu
Kekhawatiran yang semakin pilu
Retaknya sang perahu-perahu rindu
Bergelayut di kalbu
Brebes, 07 Juni 2026
9.
Bumi Nusantara
Oleh: Kang Thohir
Hutan belantara
Di ujung tombak kekerdilan
Dirampas begitu saja
Tatapan penuh keangkara murkaan
Di balik peristiwa
Bumi nusantara
Rawa-rawa menjadi tawa-tawa
Brebes, 07 Juni 2026
10.
Sumber Mata Pencaharian
Oleh: Kang Thohir
Hutan adalah sumber kehidupan
Pelindung dari kebanjiran
Penopang para binatang-binatang dan hewan
Sumber mata pencaharian
Di ufuk barat sana
Adalah mata air kehidupan
Hirap suasana
Menjadi berlinang air mata
Entah, sampai kapan?
Brebes, 07 Juni 2026
11.
Adapun Permata Dunia
Oleh: Kang Thohir
Adapun permata dunia
Adalah hutan belantara
Berisi tentang cerita
Mengandung pepohonan asmara
Berbuah cinta penuh makna
Namun ditebang begitu saja
Oleh manusia
Ah, sudahlah!
Brebes, 07 Juni 2026
12.
Kisi-kisi Arunika dalam Asmaraloka
Oleh: Kang Thohir
Pancaran kasih mengalir pada sang permata hati di kacamata indra. Membaca jiwamu di lubuk hati di ujung senja. Ada makna di balik realita, meski tembok dinding menyatu pada waktu, namun akan terkikis juga. Pada arah tuju, menjelma simbol-simbol di kartasura di bencana begola. Akan nampak indah bagai cahaya permata. Seperti dirimu, kini terdiam membisu menanti jawaban darimu. Bahwa kelopak matamu menandakan kecewa. Di bingkai wajahmu yang teduh, seperti arunika berganti payoda. Tak nampak bahagia, namun hakekatnya masih cinta, tapi rasa gengsi dan cemburu tuk menatapku. Biarkan aku menjelma menjadi lentera bagimu tuk menerangi kalbumu yang lagi kacau. Niscahya kamu akan tersenyum kembali.
Brebes, 07 Juni 2026
13.
Menyambut Arunika Menyapa
Oleh: Kang Thohir
Di ujung kesunyian malam
Menyambut arunika menyapa
Di antara gerimisnya hati yang karam
Melambai angan, namun tak tersampaikan
Brebes, 08 Juni 2026
14.
Di Baling-baling Asa
Oleh: Kang Thohir
Di dalam gejolak rindu yang sunyi
Di baling-baling asa
Tersimpan mutiara berkilau mentari
Hanya satu di antara mereka
Brebes, 08 Juni 2026
15.
Mata Menuju Cinta
Oleh: Kang Thohir
Mata menuju cinta
Titik sepi
Di bilik kamar sunyi
Hanya bisa meratapi bahtera asa, tersembunyi
Brebes, 08 Juni 2026
16.
Menjelma Menjadi Kerinduan
Oleh: Kang Thohir
Kepingan bahtera cinta melambai, di ujung tepian. Samudra cinta memang anugerah Mahacinta, menjadi saksi. Hanya dengan harapan menjelma menjadi kerinduan.
Brebes, 08 Juni 2026
17.
Selembut Tali Harapan
Oleh: Kang Thohir
Selembut tali harapan, pada titian
Melangkah
Di balik semua peristiwa, meski di ujung tanduk kekecewaan, masih ada harapan
Jangan kau sia-siakan,
waktu yang akan berjalan. Hata menuju kebahagiaan.
Brebes, 08 Juni 2026
18.
Ada Muka Ada Cerita
Oleh: Kang Thohir
Ada muka ada cerita
Realita, yang mana?
Handuk dilap di pantatmu, meski kau tersenyum durga
Melambungnya harapan, namun selalu kecewa; murka.
Lalu teriakan hanyalah sebuah lelucon
Hingga tak ada wibawa sama sekali
Hanya air mata di ujung penyesalan
Seperti yang kita lihat tadi
Brebes, 08 Juni 2026
19.
Semu di Ujung Senja
Oleh: Kang Thohir
Di ujung panggung kau bersandiwara
Merasa puas hasil rekayasa
Di antara mereka durjana
Menatap bayang-bayang semu di ujung senja
Brebes, 08 Juni 2026
20.
Adalah Semu
Oleh: Kang Thohir
Ruang sunyi tetap berdiri
Hanya tertutup kain hijau
Kelambu
Di balik semua, adalah semu
Brebes, 08 Juni 2026
21.
Arunika Melambai Jauh
Oleh: Kang Thohir
Arunika melambai jauh
Kini senja menyapa
Meski kalbu kian peluh
Tatapan sunset membawa cinta, penuh indah nan berwarna
Brebes, 08 Juni 2026
22.
Di Balik Diam
Oleh: Kang Thohir
Ada cerita di balik diam
Menganga di ujung senja
Meraup dinginnya malam
Asa bergelayut di tepian samudra
Brebes, 09 Juni 2026
23.
Di Balik Tangga
Oleh: Kang Thohir
Ada duri di balik tangga
Di balik semua adalah sandiwara
Mengapa demikian, karena harta
Menatap semu di balik realita
Brebes, 09 Juni 2026
24.
Sang Payoda
Oleh: Kang Thohir
Ada cerita menarik sang arunika
Bila padam di antara mereka
Bercumbu pada sang payoda
Berganti nama sang cakrawala
Brebes, 09 Juni 2026
25.
Di Ujung Tenda
Oleh: Kang Thohir
Api sandiwara di ujung tenda
Bercengkrama durjana
Mendekap di balik realita
Namun, akhirnya hanya dusta semata
Brebes, 09 Juni 2026
26.
Menjadi Maknawi
Oleh: Kang Thohir
Era globalisasi menjadi saksi
Kini berubah menjadi maknawi
Digital adalah simbol kemajuan zaman
Namun, hakikatnya sudah ditinggalkan
Brebes, 09 Juni 2026
27.
Renjana di Ufuk Barat
Oleh: Kang Thohir
Di dalam kegelapan malam
Renjana di ufuk barat
Memungut kata rinai yang mencekam
Tepian harapan kian hirap dan karat
Brebes, 09 Juni 2026
28.
Tak Kunjung Terang
Oleh: Kang Thohir
Tak kunjung terang
Saat-saat lentera menjadi padam
Di ujung senja mendekap malam
Sang rembulan pun seakan bersembunyi di balik awan yang hitam
Brebes, 09 Juni 2026
29.
Di Balik Bilik Kesunyian
Oleh: Kang Thohir
Aku menatap rembulan
Di balik bilik kesunyian
Tak ada harapan
Hirap semua kenangan
Hanya secercah angan
Menjadi bayang-bayang yang tak pernah padam
Namun hakikatnya adalah penantian
Menjadi dekapan hangat
Dipeluk erat
Namun, semua akan minggat
Aku menatap
Brebes, 09 Juni 2026
30.
Ceruak Menunggu
Oleh: Kang Thohir
Ceruak mulut yang memoar
Pusat pusaka sabar
Di balik ruang kalbu
Di ujung senja yang ruas menunggu
Brebes, 10 Juni 2026
31.
Beramal Satu
Oleh: Kang Thohir
Mencekam pusaran kuburan
Di balik semua penantian
Walau seram akhir waktu
Di antara mereka yang beramal satu
Brebes, 10 Juni 2026
32.
Antara Rindu dan Cinta Adam dan Hawa
Oleh: Kang Thohir
Adam bersama Hawa di surga
Mereka memang cinta
Di bawah Tuhannya
Bersifat Fathonah mempunyai akal
Meski tak kekal
Dari firman-Nya
Mereka diangkat menjadi Khalifah
Di bumi menjadi pemimpin manusia
Hingga di ujung senja
40 tahun sudah dalam kesunyian
Hingga akhirnya bertemu jua
Dipelukan sang Hawa di bukit Jabal Rahmah
Berpeluk mesra layaknya renjana
Yang tak kunjung tiba
Pada rindu dan cinta
Dalam naungan Tuhan Sang Mahacinta
Arunika dipertemukan jua
Sungguh indah dan nyata
Cikal bakal kehidupan bagi manusia di dunia
Brebes, 10 Juni 2026
33.
Zaman Peradaban Manusia
Oleh: Kang Thohir
Zaman peradaban manusia
Kicauan burung Nuri
Seperti habis gelap menjadi lentera
Ramai nan sunyi
Meramu semu
di Pipit Asmarani
Uap kabut hitam
Namun mencekam di kalbu
Brebes, 10 Juni 2026
34.
Serasa Menghampiri
Oleh: Kang Thohir
Serasa menghampiri
Di ujung sunyi
Seperti pembela
Namun pada akhirnya hanya dusta semata
Tipuan dan sandiwara
Di zaman modern
Hanya menatap nyata
Menjelma burung hirap di pelupuk mata
Brebes, 10 Juni 2026
35.
Siapa yang Duluan Berlabuh
Oleh: Kang Thohir
Dalam pelukan rindu
Bersandiwara permata
Takkan pernah goyah
Hanya derapan tanda tanya menyerah
Pikiran-pikiran yang keruh
Membuat jenuh
Siapkan nakhodanya
Siapa yang duluan berlabuh
Brebes, 10 Juni 2026
36.
Di Ujung Dunia
Oleh: Kang Thohir
Kapal cinta berlayar di samudra Antartika
Di ujung dunia
Menurut sang penerima
Pemberi logika
Bahtera kehidupan
Di kacamata indra
Luas tak bertepi
Hanya renungan tuk menepi
Brebes, 10 Juni 2026
37.
Sejarah akan Ada
Oleh: Kang Thohir
Tak pernah padam menunggu terkungkung
Sejarah akan ada
Bila waktu yang akan datang
Sekiranya aku menyapa
Brebes, 10 Juni 2026
38.
Ada Bias Pelangi
Oleh: Kang Thohir
ada bias pelangi
sejuk di balik ruasnya hati
penuh warna
ataukah menjadi sucinya sang jiwa
penuh makna
Brebes, 10 Juni 2026
39.
Tersenyum dalam Diam
Oleh: Kang Thohir
Kita tersenyum dalam diam, meski kita dalam keadaan mencekam.
Berjalan ditengah cerita, karena darah masih mengalir. Kita berhenti sejenak untuk vakum rehatkan badan.
Biar sukma terkumpul dalam pelukan cinta yang indah seperti dulu.
Menelan pahit empedu, masih dianggap lucu. Akan tetapi, kamu masih malu?
Anggapan itu adalah semu. Entah, aku berbicara pada siapa. Kata orang-orang ia adalah dewa, seperti drama China yang sedang populer saat ini. Tentang berkultivasi di dalam diri. Punya kekuatan sakti, bisa mengobati dan bisa berbela diri, layaknya pendekar sakti yang tiada tanding.
Brebes, 11 Juni 2026
40.
INDAH DI TENGAH SAWAH
Oleh: Kang Thohir
Bermacam indah di tengah sawah
Menampilkan vibes yang baru
Dikungkung rindu melangkah
Terasa kalbu kian meramu
Brebes, 11 Juni 2026
41.
DI ATAS KUPU-KUPU
Oleh: Kang Thohir
Hanya bunga-bunga yang indah
Di atas kupu-kupu
Meski kadang layu
Digerus waktu
Aku ingin menuju
Permainan kalbu
Saat ruang rindu
Menampilkan kesunyian cinta,
yang semu
Brebes, 11 Juni 2026
42.
ASA KIAN RAPUH
Oleh: Kang Thohir
Terparkir hatiku di cinta yang sunyi
Asa digadai rindu
Suasana kerajaan yang kerap runtuh
Asa kian rapuh
Brebes, 11 Juni 2026
43.
ANGAN MENJADI ANGIN
Oleh: Kang Thohir
Angan menjadi angin
Lingkungan dingin
Kerapkali menjadi serangkai makna
Diam seribu bahasa
Layaknya pohon tak berbuah
Diam apatis
Kian sinis
Namun, duduk kelihatannya manis
Brebes, 11 Juni 2026
44.
RUN DAN SUN
Oleh: Kang Thohir
Ada makna jiwa
Pantulan cahaya senja
Bertepuk tangan sebelah
Tersenyum di depan mata
Tertawa di belakang Sanjaya
Harsa lunglai kian daksa
Run dan sun mencakup daya
Kau tak berkutik apa-apa
Kau Hanya serangkaian tulang, yang tak bermakna
Brebes, 11 Juni 2026
45.
DELIMA MENJADI PUSAKA
Oleh: Kang Thohir
Delima menjadi pusaka
Pusaka menjadi delima
Bingung tak usah dicerna
Semua hakikatnya adalah sama
Brebes, 11 Juni 2026
46.
MERANGKAK DENGKLAK AIR MATA
Oleh: Kang Thohir
Asal kau cerita
Semua orang akan tahu
Namun tak usah berumbar suara
Takutnya kau diadu domba
Melawan semu berselimutkan sandiwara
Berakhir cerita yang membuat merana
Merangkak dengklak air mata
Ah, sudahlah!
Brebes, 11 Juni 2026
47.
HARMONISASI BERSOSIALISASI
Oleh: Kang Thohir
Kemajuan di atas kejujuran
Menapaki jalan kesejahteraan
Keselamatan, kemakmuran dan kedamaian
Dalam dekapan hidup yang rukun
Harmonisasi bersosialisasi
Menawarkan paket cinta yang indah
Melambai-lambai angan menuju kemajuan tuk melangkah
Jalan sentosa di Bumi Pertiwi
Brebes, 11 Juni 2026
48.
KESUNYIAN MENCIPTAKAN SESUATU
Oleh: Kang Thohir
Kesunyian menciptakan sesuatu
Biar hakikatnya adalah satu
Dalam kemanusiaan yang adil dan beradab
Tak ada permusuhan menatap
Kekerdilan pun kian menghirap
Brebes, 11 Juni 2026
49.
KEMANUSIAAN NURANI KIAN HIRAP
Oleh: Kang Thohir
Detail-detail melacak peristiwa
Tersenyum dikala angkara murka
Hijab peristiwa di atas rekayasa
Melawan arus durjana
Semburat kecil darurat
Menatap riang sekarat
Pelupuk mata kian surap
Kemanusiaan nurani kian hirap
Brebes, 11 Juni 2026
50.
KEMAJUAN DAN KEMUNDURAN
Oleh: Kang Thohir
Kemanusiaan dan kemajuan
Kemarin tentang kemajuan
Kini tentang kesehatan
Kitu tentang kemanusiaan
Kau ini gimana sih?
Kerapkali begini, begitu selalu
Kemajuan menjadi kemunduran
Kemunduran kian banyak kemunafikan
Brebes, 11 Juni 2026
51.
ADA KEMUNAFIKAN
Oleh: Kang Thohir
Ada kemunafikan
Bersifat keserakahan
Melambung tinggi tiada keberkahan
Hanya sewenang-wenang, tanpa arah tujuan
Brebes, 11 Juni 2026
52.
DELIK BERBISIK ANGIN KENCANG MENELISIR
Oleh: Kang Thohir
Delik berbisik angin kencang menelisir
Tak disentuh sebutkan air mengalir
Jalan seperti halnya ulat panjang liar
Mencari mangsa di atas tumpukan air
Deruan menyeruak masuk
Melambai layaknya menyapa
Namun kiat merangsang ketika dipetuk
Memakan tanpa nurani hingga menusuk
Brebes, 12 Juni 2026
53.
TEMBUS PANDANG
Oleh: Kang Thohir
Tembus pandang aura kasih
Tekan pisau melembu
Asap rokok menjadi pengulu
Sayatan melek sembuju
Tiada makna semulu
Tiada harkat menemu
Biar panca indra yang akan menjadi penentu, ruas kalbu
Brebes, 12 Juni 2026
54.
AURA SAKTI MENYENTUH KALBU
Oleh: Kang Thohir
Aura sakti menyentuh kalbu
Layaknya telepati
Di ujung bilik itu
Bercengkrama dalam waktu
Menelisik di balik cermin atsar
Primeyna di uluk jiwa
Bergetar
Melawan arus jalan melambaikan aksa, daksa, sukma
Brebes, 12 Juni 2026
55.
MELAMBAI AYU
Oleh : Kang Tohir
Di bawah pohon pisang
Tumbang
Pusaka rindu
Melambai ayu
Brebes, 12 Juni 2026
56.
GADIS DESA AYU
Oleh : Kang Tohir
Gadis desa ayu
Bermain dadu
Hingga lupa waktu
Berdiri antara pahit dan rindu
Brebes, 12 Juni 2026
57.
YANG TAK BISA DIHINDARI
Oleh : Kang Tohir
Serpihan hati
Di suatu hari
Merasakan kenikmatan sakit ini
Tak berdaya menghadapi
Asa kian rapuh
Diri
Seakan menjadi momok
Yang tak bisa dihindari
Brebes, 12 Juni 2026
58.
RAHAT MENARA
Oleh : Kang Tohir
Butuh tenaga
Biar menatap penuh
Rahat menara
Singgah tuk berlabuh
Brebes, 12 Juni 2026
59.
SOAL HARTA
Oleh : Kang Tohir
Soal harta
Bisa orang menjadi munafik
Melirik, licik
Mudik lalu balik
Membawa pelik
Sange mendelik
Tak berkutik
Meramu tak berdaya menatapnya
Sangik, politik
Brebes, 12 Juni 2026
60.
AKSARA HARMONI RINDU
Oleh : Kang Tohir
Aksara
Cinta
Belah
Harmoni
Permadi
Jalan turun naik gunung salju
Tak usah merayu
Aku sudah mencintaimu
Di aksara rindu, aku melambaimu di kalbu, saat menatapmu
Brebes, 12 Juni 2026
-----------------------------------------------
TENTANG PENULIS:
Muhammad Thohir/Tahir (Mas Tair) yang dikenal dengan nama pena Kang Thohir, kelahiran Brebes, Jawa Tengah. Dari dusun/desa Kupu, kecamatan Wanasari. Dari anak seorang petani dan tinggal dari kehidupan sehari-hari bertani, berkebun, menanam bawang merah, padi, kacang, pare, cabai dan sayur-sayuran di ladang sawahnya.
Kini, aku sedang menggeluti dunia tulis menulis atau literasi, khususnya sastra Indonesia. Suka menulis sejak duduk di bangku kelas empat SD dan sampai masuk ke Pondok Pesantren. Aku masih tetap aktif menulis dan semakin semangat 'tuk menulis baik puisi maupun cerpen dan lain sebagainya yang aku tulis. Selain menulis aku juga suka membaca buku agar bisa bermanfaat untuk menambah wawasan (pengetahuan).

.png)




LEAVE A REPLY